Asap Karhutla Picu Risiko Fatal bagi Pasien Asma dan PPOK

Kesehatan94 Views

Asap Karhutla Picu Risiko Fatal bagi Pasien Asma dan PPOK Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi ancaman kesehatan serius di sejumlah wilayah Indonesia. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan mata perih, tenggorokan terasa kering, atau batuk setelah berada di luar rumah. Bagi penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik atau PPOK, menghirup asap dalam konsentrasi tinggi dapat memperburuk gangguan pernapasan hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Kementerian Kesehatan mencatat karhutla pada akhir Agustus 2026 telah memengaruhi tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Berdasarkan Situation Report per 27 Agustus, sekitar 10,67 juta penduduk berada di wilayah yang terpapar. Pada tanggal yang sama tercatat 4.082 kasus ISPA dengan jumlah kumulatif mencapai 13.449 kasus di 63 kabupaten dan kota.

Asap juga belum sepenuhnya menghilang meski beberapa titik api mulai berhasil dikendalikan. Kementerian Kehutanan pada 31 Agustus masih mencatat 946 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional. Kalimantan Barat mempunyai 455 titik dan Kalimantan Tengah 308 titik. Pemerintah menyatakan asap masih memengaruhi kualitas udara serta jarak pandang di beberapa wilayah.

PM2,5 Menjadi Ancaman Utama dari Asap Karhutla

Asap kebakaran merupakan campuran sangat kompleks. Di dalamnya terdapat gas, uap, serta partikel dengan ukuran berbeda yang berasal dari pembakaran vegetasi, gambut, kayu, dan material lain.

Organisasi Kesehatan Dunia menyebut sekitar 90 persen massa partikel yang dilepaskan kebakaran hutan terdiri atas particulate matter berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini dikenal sebagai PM2,5. Asap juga dapat membawa nitrogen dioksida, sulfur dioksida, hidrokarbon aromatik polisiklik, logam beracun, serta partikel ultrahalus.

Ukuran PM2,5 jauh lebih kecil daripada diameter rambut manusia. Karena sangat halus, partikel dapat mengikuti aliran udara sampai ke bagian dalam saluran pernapasan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 21 Agustus mengingatkan bahwa PM2,5 dari karhutla dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Kelompok yang perlu lebih berhati hati mencakup anak, ibu hamil, lansia, serta orang yang mempunyai riwayat asma dan penyakit paru.

Masalahnya, kabut yang terlihat tipis tidak selalu berarti udaranya aman. Konsentrasi partikel tetap dapat berada pada tingkat tinggi meskipun jarak pandang terlihat lebih baik dibandingkan hari sebelumnya.

Mengapa Pasien Asma Sangat Sensitif terhadap Asap

Asma merupakan penyakit saluran napas yang ditandai dengan peradangan serta penyempitan saluran pernapasan. Penderitanya dapat mengalami batuk, mengi, dada terasa sesak, dan kesulitan bernapas ketika terkena pemicu tertentu.

Asap merupakan salah satu pemicu yang perlu diwaspadai.

Ketika partikel halus masuk ke saluran napas penderita asma, iritasi dapat meningkatkan reaksi peradangan. Saluran napas yang sebelumnya sudah sensitif kemudian semakin mudah menyempit.

CDC memasukkan serangan asma sebagai salah satu gangguan yang dapat terjadi setelah seseorang menghirup asap kebakaran. Paparan juga dapat memunculkan batuk, mengi, kesulitan bernapas, rasa tidak nyaman pada tenggorokan, hingga nyeri dada.

Bagi sebagian orang, gejalanya mungkin masih dapat dikendalikan dengan rencana terapi yang sudah diberikan dokter. Pada kasus lain, serangan dapat berkembang menjadi keadaan yang membutuhkan penanganan medis segera.

Serangan Tidak Selalu Langsung Terjadi

Keluhan setelah terpapar asap tidak harus muncul dalam beberapa menit.

Seseorang dapat merasa cukup baik ketika berada di luar, kemudian mulai batuk atau mengi beberapa jam berikutnya. Gejala juga bisa bertahan setelah asap secara visual sudah berkurang.

CDC mengingatkan bahwa asap dapat bertahan di udara beberapa hari setelah kebakaran selesai. Penderita asma tetap dianjurkan mengamati gejala serta memantau kualitas udara.

Hal tersebut penting bagi orang yang merasa aman hanya karena tidak lagi melihat asap pekat.

Kondisi atmosfer dapat berubah sepanjang hari. Arah angin juga dapat membawa asap dari lokasi kebakaran yang berada cukup jauh.

PPOK Membuat Cadangan Pernapasan Lebih Terbatas

Risiko yang tidak kalah besar ditemukan pada penderita PPOK.

PPOK merupakan penyakit paru kronis yang membuat aliran udara mengalami hambatan. Kondisi ini dapat berkaitan dengan bronkitis kronis, emfisema, atau kombinasi keduanya. Kementerian Kesehatan menjelaskan PPOK terjadi ketika peradangan jangka panjang menyebabkan penyempitan saluran napas.

Penderita dapat mengalami batuk menahun, produksi dahak, sesak saat beraktivitas, dan kemampuan fisik yang semakin terbatas.

Ketika asap karhutla masuk, paru yang sudah mempunyai gangguan sebelumnya harus menghadapi beban tambahan.

US EPA menyatakan paparan asap dapat memperburuk penyakit paru kronis termasuk asma dan PPOK. Pada kasus berat, kondisi tersebut dapat menyebabkan kunjungan ke unit gawat darurat atau perawatan di rumah sakit dan dapat berujung fatal.

Karena itu, pasien PPOK tidak sebaiknya menunggu sampai sesak menjadi sangat berat sebelum mencari pertolongan.

Perubahan kecil seperti kebutuhan obat pelega yang meningkat, kemampuan berjalan yang menurun, atau sesak yang muncul lebih cepat daripada biasanya dapat menjadi petunjuk bahwa kondisi pernapasan sedang memburuk.

“Menurut penulis, bahaya asap karhutla pada penderita penyakit paru berada pada kecilnya ruang toleransi tubuh. Gangguan yang mungkin terasa ringan bagi orang sehat dapat menjadi jauh lebih berat ketika fungsi paru sebelumnya sudah terbatas.”

Kabut Asap Bisa Menjangkau Wilayah yang Jauh dari Api

Seseorang tidak harus tinggal tepat di sebelah kawasan yang terbakar untuk menghirup asap.

WHO menjelaskan asap kebakaran dapat bergerak ribuan kilometer dan menurunkan kualitas udara jauh dari titik kebakaran. Pergerakannya dipengaruhi angin, kondisi atmosfer, jenis kebakaran, dan lamanya api berlangsung.

Karakter karhutla di Indonesia membuat persoalan semakin rumit karena banyak kebakaran terjadi di lahan gambut.

Gambut dapat terbakar sampai ke bagian bawah permukaan sehingga menghasilkan asap dalam waktu panjang. Api bahkan dapat terus membara ketika nyala di permukaan sudah berkurang.

Pada akhir Agustus, kebakaran luas masih terjadi di Sumatera dan Kalimantan. BNPB juga terus mencatat kejadian karhutla memasuki awal September. Pada 1 September, kebakaran dilaporkan masih menjadi salah satu kejadian bencana yang dominan, sementara pada 3 September peristiwa baru masih tercatat antara lain di Aceh Besar, Kota Batu, Penajam Paser Utara, dan Kutai Kartanegara.

Kondisi tersebut membuat pemantauan kualitas udara tetap diperlukan meski rumah berada cukup jauh dari lokasi api.

Kemenkes Memprioritaskan Penderita Penyakit Paru

Situasi karhutla tahun ini membuat Kementerian Kesehatan memperkuat perlindungan terhadap kelompok yang lebih rentan.

Pada 26 Agustus, Kemenkes menginstruksikan fasilitas kesehatan di daerah terdampak untuk memberikan perhatian tambahan kepada anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengingatkan paparan polutan dalam kondisi ekstrem dapat memperberat PPOK pada kelompok lansia. Kemenkes juga mendistribusikan masker medis dan N95, oksigen konsentrator, alat pelindung diri, serta perlengkapan kesehatan ke daerah yang membutuhkan.

Jumlah tenaga kesehatan ikut diperkuat.

Kemenkes pada 28 Agustus melaporkan 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk mendukung layanan di wilayah karhutla. Langkah tersebut dilakukan karena gangguan saluran pernapasan menjadi keluhan yang banyak ditemukan.

Kalimantan Barat Catat Kasus Gangguan Pernapasan Tinggi

Beban pelayanan kesehatan terlihat cukup besar di beberapa wilayah.

Kementerian Kesehatan mencatat Kalimantan Barat melaporkan 165.747 kasus ISPA sejak awal Januari hingga awal Agustus 2026. Kalimantan Selatan mencatat 18.423 kasus, sedangkan Kalimantan Tengah melaporkan lebih dari 3.000 kasus hanya pada periode 10 sampai 16 Agustus.

Angka tersebut tidak berarti seluruh kasus disebabkan hanya oleh asap karhutla. ISPA mempunyai berbagai penyebab.

Namun, peningkatan gangguan pernapasan di tengah kabut asap menjadi alasan fasilitas kesehatan meningkatkan kesiagaan.

Kemenkes pada laporan 21 Agustus juga menyebut kasus ISPA di Kalimantan Tengah meningkat dari 402 menjadi 716 dalam satu pekan, atau sekitar 78,1 persen.

Bagi penderita asma dan PPOK, situasi seperti ini berarti langkah perlindungan sebaiknya dilakukan sebelum gejala muncul.

Tetap di Dalam Ruangan Saat Udara Memburuk

Mengurangi jumlah asap yang masuk ke paru merupakan langkah utama.

WHO menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ketika kondisi asap berat, melindungi udara di dalam rumah, mencari ruang dengan udara lebih bersih, serta mengikuti informasi kualitas udara dari otoritas setempat.

CDC memberikan anjuran serupa kepada penderita penyakit kronis.

Saat terjadi asap kebakaran, masyarakat disarankan berada di dalam ruangan sebanyak mungkin. Pintu dan jendela dapat ditutup apabila kondisi memungkinkan. Sistem penyaring udara atau pembersih udara portabel juga dapat digunakan jika tersedia.

Namun, berada di rumah tidak otomatis menjamin tidak ada partikel masuk.

Udara luar tetap dapat masuk melalui celah pintu, ventilasi, atau jendela. Kondisi rumah dan sistem sirkulasi udara akan memengaruhi seberapa banyak asap dapat menembus ke dalam.

Kegiatan yang menambah polusi di dalam rumah juga sebaiknya dikurangi. CDC mengingatkan aktivitas memasak tertentu seperti menggoreng atau memanggang dapat meningkatkan polusi udara dalam ruangan saat kondisi asap sedang buruk.

Masker Perlu Dipilih dengan Benar

Menggunakan masker menjadi salah satu langkah yang dianjurkan ketika seseorang terpaksa berada di luar.

Kementerian Kesehatan meminta masyarakat memakai masker saat kualitas udara memburuk dan membatasi aktivitas luar ruangan. Pemerintah juga mendistribusikan masker termasuk jenis N95 ke wilayah karhutla.

CDC secara lebih khusus merekomendasikan respirator N95 yang memiliki persetujuan NIOSH apabila seseorang harus keluar ketika terdapat asap kebakaran.

Kesesuaian ukuran sangat menentukan.

Masker yang longgar membuat udara dapat masuk dari sisi wajah tanpa melewati bahan penyaring.

Untuk penderita penyakit paru berat, penggunaan respirator juga dapat terasa lebih sulit karena menambah hambatan saat bernapas. Mereka yang memiliki PPOK berat atau kondisi pernapasan tertentu sebaiknya mendiskusikan pilihan perlindungan dengan tenaga kesehatan, terutama bila harus menggunakan masker dalam periode panjang.

Obat Asma Jangan Ditinggalkan saat Bepergian

Pasien asma sebaiknya mengikuti rencana terapi yang telah dibuat bersama dokter.

CDC secara khusus meminta penderita mengikuti asthma action plan apabila memilikinya. Obat yang telah diresepkan tetap digunakan sesuai petunjuk dan tidak dihentikan hanya karena gejala sedang tidak terasa.

Inhaler pelega juga sebaiknya mudah dijangkau apabila memang menjadi bagian dari terapi pasien.

Meletakkan obat di rumah ketika seseorang pergi bekerja atau bepergian dapat menjadi masalah jika serangan muncul akibat asap dalam perjalanan.

Obat juga perlu diperiksa sebelum musim karhutla berlangsung panjang.

CDC menyarankan penderita penyakit kronis menyiapkan persediaan obat resep sekitar tujuh sampai sepuluh hari jika terdapat kemungkinan evakuasi akibat kebakaran.

Jumlah dan jenis obat tetap harus mengikuti resep dokter.

Pasien PPOK Perlu Mengenali Kondisi Normal Tubuhnya

Penderita PPOK sering mempunyai gejala sehari hari sehingga membedakan keluhan biasa dengan perburukan terkadang tidak mudah.

Seseorang mungkin memang terbiasa batuk atau menghasilkan dahak. Namun, perubahan dari keadaan normal perlu diperhatikan.

Sesak yang menjadi lebih berat, batuk meningkat, kemampuan melakukan aktivitas menurun, atau gejala yang tidak membaik dengan terapi rutin perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

CDC meminta pasien PPOK merencanakan perlindungan sebelum musim kebakaran bersama tenaga kesehatan. Jika kondisi memburuk selama paparan asap, pasien tidak sebaiknya memaksakan diri bertahan di lokasi dengan kualitas udara buruk.

Sebagian pasien juga menggunakan oksigen di rumah. Perubahan aliran oksigen tidak sebaiknya dilakukan sendiri tanpa petunjuk tenaga medis.

Peningkatan sesak bukan selalu berarti kebutuhan oksigen hanya perlu dinaikkan. Pemeriksaan dapat diperlukan untuk mencari penyebab serta menentukan terapi yang sesuai.

Aktivitas Fisik Membuat Jumlah Asap yang Terhirup Bertambah

Ketika seseorang berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak udara.

Frekuensi serta kedalaman napas meningkat. Bila aktivitas dilakukan ketika udara dipenuhi PM2,5, jumlah polutan yang masuk ke saluran pernapasan juga dapat bertambah.

Itulah sebabnya aktivitas berat di luar sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat.

Bagi penderita asma, kombinasi olahraga dan asap dapat menjadi pemicu serangan. Pasien PPOK juga dapat lebih cepat mengalami sesak karena kapasitas pernapasannya sudah terbatas.

Aktivitas rumah tangga yang membutuhkan tenaga besar di luar ruangan juga perlu diperhitungkan.

Menyapu halaman, membersihkan abu, mengangkat barang, atau berkendara dengan paparan terbuka dalam waktu lama dapat meningkatkan jumlah udara yang dihirup.

“Ketika langit dipenuhi kabut, membatalkan olahraga luar ruangan bukan bentuk kemalasan. Bagi penderita asma dan PPOK, keputusan tersebut dapat menjadi bagian penting dari perlindungan paru.”

Anak dengan Asma Memerlukan Perhatian Lebih Besar

Anak termasuk kelompok yang lebih mudah mengalami gangguan akibat asap.

WHO menjelaskan paru, jantung, sistem kekebalan, serta kemampuan tubuh anak masih berkembang. Mereka juga cenderung menghirup lebih banyak udara dibandingkan berat tubuhnya dan sering melakukan aktivitas fisik lebih tinggi daripada orang dewasa.

Risiko bertambah ketika anak sudah mempunyai asma.

Orang tua perlu memastikan sekolah atau pengasuh mengetahui kondisi anak serta mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika gejala muncul.

Aktivitas olahraga di sekolah juga dapat disesuaikan berdasarkan kualitas udara.

CDC menyarankan anak dengan asma tetap mengikuti rencana pengobatan dari tenaga kesehatan dan memastikan petugas tempat penampungan mengetahui kondisi tersebut apabila keluarga harus mengungsi.

Lansia dengan PPOK Bisa Mengalami Kondisi Lebih Berat

PPOK lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lebih tua.

Pada lansia, kemampuan tubuh menghadapi polusi dapat berkurang karena terdapat perubahan fungsi fisiologis dan kemungkinan penyakit lain seperti gangguan jantung, hipertensi, atau diabetes.

WHO menempatkan kelompok lansia sebagai populasi yang lebih sensitif terhadap asap kebakaran karena tingginya prevalensi penyakit paru dan jantung.

Kemenkes juga memberi perhatian khusus kepada lansia selama karhutla 2026.

Keluarga sebaiknya tidak hanya bertanya apakah orang tua merasa sesak. Perubahan aktivitas juga dapat menjadi petunjuk.

Lansia yang tiba tiba lebih banyak duduk, sulit berjalan ke kamar mandi, kehilangan nafsu makan karena napas terasa pendek, atau terlihat sangat lelah membutuhkan perhatian.

Asap Tidak Hanya Menyerang Paru

Meski penderita asma dan PPOK menjadi kelompok utama dalam pembahasan gangguan pernapasan, PM2,5 tidak berhenti pada sistem paru.

WHO menyebut partikel sangat halus dapat berkaitan dengan gangguan kardiovaskular. Paparan asap juga dapat memunculkan nyeri dada, jantung berdebar, dan peningkatan kebutuhan perawatan pada kelompok rentan.

EPA juga mencatat paparan jangka pendek terhadap asap kebakaran berkaitan dengan perburukan gagal jantung, serangan jantung, stroke, serta peningkatan kunjungan ke fasilitas kesehatan.

Hal tersebut penting bagi pasien PPOK karena sebagian penderita juga mempunyai penyakit jantung.

Sesak yang memburuk tidak selalu berasal dari satu penyebab.

Karena itu, keluhan berat perlu dinilai tenaga medis daripada hanya ditangani dengan menambah penggunaan inhaler sendiri.

Risiko Fatal Bukan Sekadar Istilah

Penyebutan asap karhutla sebagai ancaman yang dapat berujung fatal mempunyai dasar medis.

WHO menyebut paparan jangka pendek terhadap polusi partikel dari kebakaran dikaitkan dengan kematian akut serta kematian dini di wilayah yang terkena asap. Organisasi tersebut juga mencatat hubungan konsisten antara paparan asap kebakaran dan peningkatan risiko kematian dari berbagai sebab, meski hubungan khusus untuk setiap penyebab masih terus dipelajari.

US EPA secara khusus menyatakan perburukan asma serta PPOK akibat asap dapat membutuhkan perawatan darurat atau rawat inap dan pada kasus berat dapat berujung fatal.

Hal itu bukan berarti setiap penderita asma atau PPOK yang menghirup asap akan mengalami keadaan mengancam nyawa.

Tingkat risiko dipengaruhi banyak hal, termasuk konsentrasi polutan, durasi paparan, tingkat penyakit paru sebelumnya, usia, penggunaan obat, serta keberadaan penyakit lain.

Jangan Menunggu Sesak Sampai Tidak Bisa Berbicara

Penderita penyakit paru perlu mengetahui kapan perawatan rumah tidak lagi cukup.

CDC menyarankan menghubungi tenaga kesehatan ketika muncul kesulitan bernapas, napas terasa pendek, batuk yang tidak berhenti, atau gejala lain yang tidak membaik. Untuk keadaan medis darurat, pasien perlu segera menuju unit gawat darurat.

Kesulitan bernapas berat, nyeri dada, perubahan kesadaran, atau kondisi yang memburuk cepat tidak sebaiknya menunggu kualitas udara membaik dengan sendirinya.

Indonesia memiliki kondisi yang berbeda antarwilayah sehingga nomor layanan dan akses fasilitas kesehatan dapat berbeda. Keluarga yang tinggal di daerah rawan asap sebaiknya mengetahui rumah sakit atau puskesmas terdekat sebelum keadaan memburuk.

Persiapan menjadi lebih penting bagi orang yang mempunyai riwayat serangan asma berat atau pernah dirawat karena PPOK.

Kualitas Udara Perlu Dipantau Setiap Hari

Langit tidak selalu memberikan gambaran akurat mengenai jumlah PM2,5 yang sedang terhirup.

Karena itu, Kemenkes meminta masyarakat memantau kualitas udara dan mengikuti informasi resmi selama periode karhutla.

Indeks kualitas udara dapat membantu menentukan apakah aktivitas di luar perlu dikurangi.

Penderita asma dan PPOK sebaiknya membuat keputusan berdasarkan kondisi udara sekaligus keadaan tubuh, bukan hanya melihat apakah orang lain masih beraktivitas seperti biasa.

Seseorang tanpa penyakit paru mungkin masih merasa nyaman berjalan di luar dalam kondisi tertentu, sementara penderita asma dapat mulai mengalami mengi.

Begitu pula pasien PPOK yang fungsi parunya sudah rendah dapat membutuhkan batas paparan yang lebih ketat.

Periode Karhutla Belum Bisa Dianggap Selesai

Risiko kebakaran pada 2026 masih perlu dipantau memasuki September.

BNPB sebelumnya menyatakan Agustus sampai September merupakan periode dengan risiko karhutla tinggi, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Enam provinsi menjadi prioritas operasi, yaitu Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Laporan BNPB sampai awal September masih mencatat kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.

Artinya, penderita asma dan PPOK belum sebaiknya menyimpan kembali masker, melupakan obat rutin, atau berhenti memantau kualitas udara hanya karena hujan turun satu kali atau asap terlihat menipis.

Api gambut dapat bertahan lama dan angin dapat membawa kembali kabut ke permukiman.

Ketika kualitas udara kembali memburuk, langkah pertama tetap mengurangi paparan, mengikuti terapi yang telah ditetapkan dokter, menjaga obat mudah dijangkau, serta mencari pertolongan medis bila sesak atau gangguan pernapasan tidak membaik.